Agar Anak Menjadi Manusia Tanpa Kekerasan


Agar Anak Menjadi Manusia Tanpa Kekerasan

Sejak lahir, bayi tergantung pada orang dewasa lainnya untuk dapat bertahan hidup dan berkembang. Dalam pertumbuhan selanjutnya, anak membentuk banyak hubungan dan menjalin jaringan kompleks memberi dan menerima yang akhirnya mencitakan interdependen (saling tergantung) yang sehat dengan keluarga, masyarakat, dan budaya. Manusia melakukan hal ini karena secara biologis kita diciptakan untuk hidup, bermain, tumbuh, dan bekerja dalam kelompok. Kita, pada intinya adalah makhluk sosial. Afiliasi (pertalian sebagai anggota dari suatu kesatuan) memberi kita kekuatan, sehingga kita menjadi lebih kuat, lebih adaptif, dan lebih kreatif jika kita menjadi anggota kelompok disbanding jika kita sendiri.

Akar afiliasi

Keluarga adalah kelomok pertama dan palin penting bagi anak, di mana anggotanya dipersatukan ikatan emosional dan kasih sayang yang kuat. Selain itu, anak-anak juga berhubungan dengan kelompok lain, yang ikatannya lebih longgar. Yaitu masyarakat dan kebudayaan, di mana anak menjadi bagian di dalamnya. Keanggotaan dalam semua kelompok ini akan membentuk kehidupan anak-anak. Sesudah dewasa, giliran mereka yang mempengaruhi masyarakat dan kebudayaan.

Di dalam kelompok-kelompok ini, anak akan mengalami ribuan pengalaman emosional, sosial dan kognitif yang ikut membentuk perkembangannya. Kemampuan untuk bergabung, berkontribusi, dan merasakan manfaat kelompok sangat diperlukan untuk perkembangan yang sehat. Itu sebabnya, anak-anak harus belajar bagaimana cara bergabung, berkomunikasi, mendengarkan, berunding, berkompromi dan berbagi. Sayangnya, keterampilan ini tidak selalu mudah dikuasai. Mereka harus mempelajarinya seumur hidup. Dimulai dari pelajaran yang mereka dapatkan dari hubungan awal dengan keluarganya.

Menurut para ahli perkembangan anak, afiliasi berakar dari kasih sayang, kemampuan untuk membentuk dan mempertahankan hubungan emosional yang sehat, dan kemampuan untuk menguasai rasa frustasi dan kecemasan. Tanpa kekuatan-kekuatan ini, anak-anak tak dapat mulai membentuk dan mengatur hubungan dengan hal-hal lain yang diperlukan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan afiliasi.

Belajar bergabung

Dari hubungan primer dengan orangtua, anak belajar bahasa sosial dan hukum-hukum dasar interaksi. Pentingnya hukum ini dikuatkan oleh ketergantungannya pada orangtua yang secara inheren lebih besar, lebih kuat, dan lebih berdaya disbanding dengannya. Tapi, faktor-faktor ini tidak terdapat dalam interaksi anak yang pertama dengan anak-anak lainnya. Itu sebabnya, anak-anak cenderung lebih mudah membentuk hubungan dan berafiliasi dengan orang dewasa dibanding dengan anak-anak lainnya. Untuk belajar berkomunikasi dan belajar aturan-aturan hubungan sosial dengan anak lainnya, anak perlu waktu dan pengalaman.

Untuk bergabung dengan anak lain, anak belajar selangkah demi selangkah. Pertama, mereka mengamati dan menjelajahi jargon. Sesudah itu, mereka belajar mengadakan hubungan dengan kelompok sebaya yang lebih kompleks dan lebih beragam. Belajar dan menguasai aturan-aturan atau hukum-hukum kelomok itu sangat penting sekaligus sulit bagi banyak anak. Dalam hubungan ini akan muncul sahabat terbaik. Terbentuk gabungan yang bersifat sementara di mana seorang anak tidak termasuk di dalamnya. Dan dimasukkan lebih belakang dibanding anak lainnya.

Menjadi anak yang termasuk di dalam atau di luar kelompok dapat berubah dalam hitungan jam dan hari. Dalam jam ini, seorang anak dapat menjadi anggota suatu kelompok, dan pada jam lainnya, anak tersebut sudah berada di luar kelompok itu. Sebagian anak dapat mengatasi proses ini dengan baik. Yang lainnya tidak. Biasanya yang tidak bisa mengatasi proses ini adalah anak-anak yang afeksi dan keterampilan mengatur dirinya kurang matang. Walaupun demikian, dalam beberapa kasus, anak yang sulit menguasai keterampilan afiliasi dan berinteraksi dengan anak-anak sebaya tetap dapat sangat interaktif dengan orang-orang dewasa.

Cara anak menguasai dinamika kelompok

Sejalan dengan pertumbuhan anak, mereka menjadi lebih mampu mempertahankan dan mengatur hubungan yang lebih beragam. Interaksi dengan kelompok berstruktur dan teratur seperti hubungan di dalam kelas membantu anak mengembangkan keterampilan-keterampilan ini. Memilih teman-teman untuk bersama-sama mengerjakan tugas atau bermain memberi kesempatan kepada anak untuk belajar menunggu, berbagi, mengikuti giliran, kooperasi dan berkomunikasi dengan anak-anak lain. permainan-permainan dan tugas-tugas ini menjadi makin kompleks sejalan dengan pertumbuhan anak.

Pada saat ini, permasalahan akan muncul jika terjadi keadaan yang tidak sebanding antara keterampian sosial anak dan tuntutan-tuntutan permainan atau tugas. Sebagai contoh, memperkenalkan permainan sepak bola pada anak umur 5. anak-anak usia ini dapat main sepak bola dengan meniru, tapi mereka tidak main sebagai tim. Semua anak yang berjumlah 9 orang itu akan mengejar bola ke mana-mana di lapangan. Hanya dalam perkembangan selanjutnya, anak-anak benar-benar dapat mengerti bagaimana caranya bekerja bersama-sama. Tentu, anak-anak yang usianya lebih kecil boleh saja main sepak bola. Tapi orangtua atau orang-orang dewasa lainnya harus memahami, bahwa anak-anak ini bukan hanya mempunyai keterbatasan dalam keterampilan-keterampilan fisik, tapi juga keterbatasan dalam keterampilan-keterampilan sosial mereka.

Membantu anak yang perlu dukungan

Sebagian besar anak yang bermasalah dalam kelompok belum belajar cara mengatur diri sendiri atau berhubungan dengan anak-anak lain. mereka sulit belajar isyarat-isyarat sosial dan sering bertindak mengikuti dorongan hati atau dengan cara yang tidak matang jika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Hal ini membuat anak-anak lain lalu berusaha menghindarinya, yang akhirnya menciptakan lingkaran negatif. Sempitnya peluang untuk bersosialisasi menyebabkan pembelajaran sosial yang lebih lamban. Jika keadaan ini terus berlanjut, anak-anak ini akan makin jauh dan jauh dari kelompok sebaya mereka, membuat mereka menjadi bagian dari kelompok itu.

Anak yang berjarak, dikucilkan dari kelompok, atau impulsif, biasanya juga akan lemah dalam kekuatan-kekuatan inti lainnya dan sulit diterima di dalam kelompok. Kalau pun dia tetap termasuk dalam kelompok itu, kemungkinan dia akan bertindak dengan cara yang membuat anak-anak lain mengejeknya atau sebaliknya, anak-anak lain  secara aktif menghindarinya.

Anak yang dikucilkan, disisihkan atau dimarginalisasikan, dapat memasukkan rasa sedih ini ke dalam hati, lalu menjadi anak yang murung atau benci pada diri sendiri. Atau dia mengarahkan kesedihan dan rasa sakit hatinya keluar, menjadi anak agresif dan bahkan melakukan tindak kekerasan. Jika tak ada intervensi dari orangtua atau orang dewasa lainnya, guru misalnya, dalam kehidupan selanjutnya, anak- anak ini berkemungkinan besar mencari anak-anak yang terpinggirkan lainnya dan bergabung dengan mereka. Celakanya, pertalian yang mengikat kelompok ini dapat merupakan keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai yang menghancurkan diri sendiri atau rasa benci terhadap anak-anak yang mengucilkan mereka.

Cara mengembangkan afiliasi anak

  1. Beri anak Anda kesempatan-kesempatan sosial yang sesuai dengan tingkat perkembagannya. Anak baru siap melakukan permainan interaktif dengan anak-anak sebaya jika dia sudah menguasai permainan paralel. Jika anak sudah bisa berbagi, perkenalkan permainan-permainan yang melibatkan anak-anak lain.
  2. jangan mengatur permainan anak Anda. Jika anak Anda mengajak temannya main di rumah dan mereka akhirnya main sendiri-sendiri di ruang yang berbeda, Anda tak perlu khawatir. Kedua anak paling menikmati waktu bermain jika mereka tidk dipaksa.
  3. Sesuaikan tuntutan dengan usia anak. Anak-anak kecil tidak mampu menguasai keterampilan-keterampilan afiliasi yang kompleks. Jadi, jika anak Anda mulai mengajak temannya main ke rumah, buat kunjungan ini berlangsung singkat dan positif. Akan jauh lebih mengakhiri kunjungan yang baik lebih cepat ketimbang membuat kedua anak bersama-sama kelelahan.
  4. Beri kesempatan untuk latihan keterampilan-keterampilan sosial. Kehidupan rumah menawarkan banyak kesempatan untuk berbagi, berunding, berkompromi, dan mendengarkan. Semua keterampilan ini harus dilakukan anak Anda jika dia bergabung dengan anak-anak lainnya.
  5. Jika anak Anda pemalu atau belum matang, beri dorongan untuk permainan sosial secara bertahap. Mulai dengan perlahan dan beri banyak kesempatan kepada anak Anda untuk berinteraksi dengan anak-anak lainnya dalam suasana yang aman dan dapat ditebak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: